Semasa aku kecil, aku hidup di desa yang begitu tentram, damai dan penuh kebahagiaan, meskipun aku belum bisa berfikir secara dewasa, tapi aku bisa merasakan. kalau kebahagiaan itu ada di kampung halamanku. Kini hari demi hari, bulanpun silih berganti aku beranjak tumbuh dewasa. Kehidupan pun semakin berkembang, kampung halamanku semakin maju. Jalan yang dulunya penuih dengan kerikil-kerikil tajam . sungai yang penuh dengan kotoran. Kini telah berubah menjadi sebuah pemandangan yang indah dan bersih unjtuk dirasakan, sungguh aku bahagia mempunyai tempat tinggal di kampungku.
Kini tahun pun telah berganti tahun kampung halamanku mulai terkoyak dengan adanya industri, satu demi satu bangunan industri didirikan bahkan sedikit demi sedikit penghijauan mulai berkurang, sawah ladang telah berubah menjadi sebuah bangunan. Udaranya yang dulu terasa sejuk, kini telah berubah menjadi panas tercampur dengan asap industri. Saat itulah tepatnya tahun 2006 masuk lagi sau industri yang cukup besar dengan PT. LAPINDO dan awal berjalannya pekerja PT.LAPINDO, membawa suatu dampak yang cukupo panas, banyak sudah terjadi keributan. Ketidak harmonisan antara sesama teman.
Tak lama setelah beberapa bulan tepatnya tanggal 29 Mei 2006 PT.Lapindo telah membuat suatu kesalahan bahkan membuat resah banyak orang, dimana lumpur panas telah meluber dimana-mana, pepohonan, rumah, sawah, peternakan, bahkan pekerjaantelah porak poranda. Sungguh aku tak menyangka tempat kelahiranku telah sirna tanpa ada penghijauan seperti semua, kampung halamanku yang dulunya hidup, damai, tentram kini telah rata terkoyak oleh lumpur lapindo. Semua saudara, teman, tetangga meniti kehidupan baru, semuanya telah terombang-ambing kehilangan kampung halaman.
Kini 3 tahun sudah bencana Lapindo masih belum reda, jalan demi jalan, desa demi desa, satu persatu akan sirna, kadang aku menangis kalau teringat akan kampung halamanku. Desa yang penuh dengan kebahagiaan kini hanya tinggal kenangan desaku yang dulunya sejahtera kini berubah menjadi sejarah sedunia. Penghijauan, kehidupan ketentraman bahkan kebahagiaan tak pernah hidup lagi dlam kampung halamanku. Semua sirna, semua rata kembali seperti semula. Kampung halamanku kini bagaikan lautan, sepi, sunyi tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
Selamat tinggal kampung halamanku. Kau tak akan pernah sirna, namau kana tetap menyatu dalam jiwaku. Bagaikan air yang mengalir, agaikan darah yang menetes dalam tubuhku. Namamu akan tetap teringat dilubuk hatiku.Selamat Tinggal Kampung Halamanku, Selamat Tinggal Penghijauan di Kampungku, Reno Kenongo Tetap Harum Dihatiku T_T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar